Merek Sepatu Asli Indonesia Kualitas Dunia

100% indonesia vector logo

Pernah dengar atau bahkan memiliki sepatu Adidas yang labelnya bertuliskan Made In Indonesia? Ya. Benar ADIDAS memang raksasa sepatu olahraga yang memiliki pabrik di berbagai wilayah di dunia termasuk Indonesia, India, Vietnam, China dan lainnya. Namun tentu saja pabrik yang ada di Indonesia itu bukan pabrik milik Adidas, tetapi pabrik lokal yang bertindak sebagai vendor pengerjaan produk dengan standar bahan, desain dan teknik pemrosesan yang sudah verifikasi oleh pihak Adidas. Sedangkan merek ADIDAS tetap saja bukanlah merek Indonesia. Itulah kenapa meski ada pabrik sepatu dan bola merek Adidas, Nike atau lainnya di Indonesia tetapi merek itu tidak pernah masuk dalam kampanye pemerintah 100% Cinta Indonesia yang bertujuan mendorong brand asli Indonesia untuk menjadi pertimbangan masyarakat.

Fakta bahwa banyak pabrik baik sepatu maupun produk fashion lainnya di Indonesia yang menjadi vendor pengerjaan produk merek luar kelas dunia tersebut, menunjukkan bahwa sebenarnya tangan-tangan terampil Indonesia mampu memproduksi barang-barang berkelas, hanya mungkin masalah ide desain dan permodalan yang menjadi kendala, juga tentu saja tanggapan masyarakat sendiri yang seringkali masih miring terhadap produk asli Indonesia.
Berikut adalah merek-merek sepatu keren dengan kualitas terbaik dan setara dengan merek kelas dunia yang merupakan produk Made By Indonesia, yang artinya merek, desain dan pegerjaannya dilakukan di Indonesia oleh putra-putri terkreatif Indonesia.

1. PIERO

Muncul di tahun 2000an, Piero adalah merek sepatu yang menandai bangkitnya ekonomi Indonesia setelah diterjang krisis moneter dan pergolakan sosial politik di tahun 1998. Orang di balik lahirnya merek ini bernama Djimanto. Jangan salah, meski merek ini bergaya sok Italia, tetapi merek PIERO adalah hasil dari otak-atik aksara dari kata OERIP (urip), sebuah kata dalam bahasa Jawa yang artinya “hidup” atau “kehidupan”. Dimanto mungkin berharap merek ini akan terus hidup dan menghidupi bagi produsen maupun pelanggannya.

2. BUCCHERI

Merek ini dibesut oleh orang bernama Erdyansyah. Konon Bucheri dirintis produksinya pada 1980an diproduksi oleh PT Vigano Cipta Perdana, namun menurut Erdyansyah, Bucheri mulai serius melakukan riset desain dan selera sepatu pria mulai 1991. Kini di bawah naungan PT Nirvana Wastu Pratama, Bucheri sudah masuk pasar International dengan memproduksi sepatu, tas kulit dan aksesories dari bahan-bahan berkualitas.

3. LEAGUE

Sepatu League muncul di pasaran Indonesia sekitar 2003. Produk ini memiliki desain-desain yang menyasar penggemar olahraga dan penampilan bergaya sporty. League memiliki barisan sepatu yang sesuai untuk remaja dan kaum muda. Di Indonesia League bisa dianggap tidak terlalu menonjol di banding merek lain, tapi jangan salah, League sudah mengekspor produknya ke belasan negara seperti Singapura, Malaysia hingga Dubai. Menurut direksi PT. Berca Retail Sportindo yang mengurus pemasarannya, League sangat laris di Dubai. Kini League sedang menyiapkan untuk meraih pasar di Amerika Serikat. League memiliki banyak sekali desain, namun tidak semua dijual di Indonesia karen League mendesain sepatu sesuai dengan karakter dan selera negara-negara yang disasarnya.

4. TOMKINS

Adalah PT Primarindo Asia Infrastructure, Tbk, sebuah perusahaan produksi alas kaki di Indonesia yang berada di balik merek TOMKINS. Perusahaan ini awalnya berdiri pada 1988 dengan nama PT. Bintang Kharisma. Perusahaan ini awalnya adalah perusahaan vendor yang mengerjakan produksi sepatu REEBOK. Namun pada 2002, Reebok melakukan relokasi produksi dan menghentikan kerjasama dengan Primarindo. Untuk terus menjaga nafas pabrik, dan memanfaatkan kemampuan dan pengalaman memproduksi sepatu berkualitas dunia, maka Primarindo segera melakukan langkah dengan mendesain dan meluncurkan merek sendiri, TOMKINS. Desain-desain Tomkins terkenal sangat trendy dan memiliki banyak pilihan. Dengan sejarah sebagai vendor merek Reebok, tentu kita tidak bisa bilang mereka ini pemula.

5. YONGKI KOMALADI

Yongki Komaladi adalah merek sepatu fashion lifestyle yang dicipta oleh desainer dengan nama yang sama Yongki Komaladi. Kisahnya cukup menarik. Dimulai dari bekerja sebagai penjaga butik di sebuah butik baju import di Jakarta, Yongki sudah akrab dengan trend fashion. Berbekal penampilan fisik yang cukup bagus, tanpa sengaja Yongki masuk ke dunia modeling setelah mendapat tawaran sebagai model kacamata untuk Optik Oculus, kemudian digaet para desainer seperti Piere Bruno dan lainnya untuk menjadi perawagan/model pakaian pria dan berkeliling di berbagai fashion show. Kemudian setelah 10 tahun di dunia modelling, Yongki kembali bekerja di ritel pakaian, kali ini menjadi penanggungjawab desain display dan promosi di Ramayana Dept Store. Di situlah ia mulai mencoba mendesain pakaian dan display promosi. Dan ketika ada keluhan dari boss mengenai desain-desain sepatu yang diretail kurang menarik, Yongki mendapat kesempatan untuk mendesain sepatu dan sekaligus mengurus pembuatannya. Ia beri merek sepatu itu sesuai namanya. Yongki Komaladi menjadi salah satu merek bergengsi hingga kini.

6. EAGLE

Eagle mulai menapaki tanah air Indonesia pada 1986 di bawah PT Eagle Indonesia. Generasi 80-90an awal mungkin akrab dengan sepatu yang ketika itu sangat awam di kalangan anak sekolah dari SD hingga SMP. Sekitar 90an akhir hingga 2000an awal merek ini sempat tenggelam meski masih berproduksi. Eagle kemudian merejuvenasi mereknya pada 2006 dengan peralihan manajemen di bawah PT Global Fashion Indonesia. Eagle mengubah logo dan memperkuat filosofi mereknya yang terinspirasi dari sang Rajawali: Sharp, Speedy and Strong Spirit. Eagle kemudian menyempurnakan desain dan kualitasnya dan memberondong pasar dengan 3 jenis fungsional sepatu yaitu sepatu fitnes, sepatu badminton dan sepatu lari. Eagle mengunakan bahan dan teknologi terkini termasuk salah satunya teknologi Insbio yang diklaim menekan pertumbuhan bakteri dalam sepatu sehingga meminimalisir bau sepatu dan menjaga kehangatan kulit kaki sehingga lebih sehat dan lebih cepat pulih dari rasa lelah. Keren kan…

7. 910 (NineTen)

Sepatu ini tergolong masih imut dari segi umur. Mendarat pada 2014, 910 berada di bawah naungan perusahaan Wijaya Artha Mandiri Group. Meski baru berusia 5 tahun di 2019 ini, jangan anggap merek ini adalah sepatu yang dibikin secara “coba-coba”. Hartono sang pendiri merek ini sebelumnya telah berkiprah di perusahaan sepatu yang melayani brand-brand global seperti Nike, Puma dan Yonex. Hartono mengaku idenya terinspirasi oleh Air Asia. Perusahaan penerbangan asal Malaysia itu menggebrak dunia dengan tarif penerbangan murah namun service tidak murahan. Nah, mengingat sepatu brand global seperti Nike dan Adidas sangat mahal (di atas 1 juta), Hartono ingin membuat sepatu lari dengan kualitas global namun harga lokal. Dan ia memepetkan margin keuntungan dan mewujudkan mimpinya itu dengan menghadirkan sepatu 910 yang harganya berkisar antara 200-500 ribu saja

8. BRODO

Brodo didirikan oleh dua alumni ITB, Yukka dan Putra (Uta) pada 2010 di Bandung. Menurut websitenya, semua diawali dengan sulitnya Yukka menemukan sepatu yang ukurannya pas (tidak dijelaskan kebesaran atau kekecilan). Kemudian mereka berdua menyadari betapa Indonesia ini kaya akan semua bahan baku dan juga keuletan, namun kenapa tidak ada merek sepatu Indonesia yang berkembang? Daripada terus mencari jawaban dari luar, Yukka dan Uta memilih menjawabnya sendiri dengan “mengapa bukan kita yang memulai?”, maka mulailah mereka berburu bahan kulit kualitas terbaik dan bekerja bersama pengrajin paling teliti dan berdedikasi di Bandung. Jadilah merek ini Brodo. Uniknya, ketika merek-merek lain berlomba menyebarkan pasar dengan menggandeng distributor atau retailer. Brodo memilih memangkas jalur pemasaran dengan mengurus sendiri penjualanny sehingga pembeli tidak dikenakan biaya margin berlapis-lapis. Hasilnya Brodo bisa mendarat di kaki pembeli dengan harga seminimal mungkin. Brodo menjadi salah satu simbol gaya anak muda dengan sepatu berbahan kulit baik untuk jenis formal, casual maupun boot.

9. SPECS

Anda kenal sandal legendaris merek Lily? Nah, SPECS adalah adik kandung sandal Lily. Meski sandal Lily dikenal sebagai merek sandal kelas rakyat nan ekonomis, tidak demikian dengan SPECS. Perusahaan pembuatnya PT Panarub Industry sudah beroperasi sejak 1968, dan meluncurkan Lily pada tahun 1970an. Tetapi SPECS baru dilahirkan pada 1980, dan terus dikembangkan hingga akhirnya memperoleh sertifikasi ISO dan bahkan pabrik pembuat SPECS juga dipercaya sebagai vendor salah satu jenis sepatu ADIDAS.

Specs memang awalnya fokus pada sepatu Sepakbola, namun kini telah berkembang dengan memproduksi sepatu futsal, sepatu lari dan olahraga indoor (badminton dan bola voli). Specs jga memproduksi bola, raket dan sport apparel.

Nah itulah 9 merek sepatu dari banyak lainnya yang tidak sekedar Made In Indonesia, tetapi Made By Indonesia. Masih ada merek-merek lainnya lho, seperti ARDILES, WAKAI, GEOFF MAX (GMX), PRECISE, KASOGI, HOMY PED dan banyak lainnya.

Merek-merek ini sangat patut menjadi koleksi dan pelengkap kebutuhan sepatu sehari-hari kita bukan semata karena kampanye cinta produk Indonesia, tetapi juga karena kualitasnya memang setara dengan merek global yang juta-an harganya. So, kalau ada yang lebih murah kenapa pilih yang mahal? Dan tetap sih, pak Wage tetap menyarankan untuk mendukung merek-merek asli Indonesia.

Lain waktu kita bahas merek lain ya…


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori Produk